ELKHANA BRYAN

March 30, 2019

KESAKSIAN DALAM PENDERITAAN

Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mer (Yeremia 7:11)

Yeremia banyak mengeluh karena mengalami depresi dan tekanan secara mental. Dia sedih, kecewa dan marah. Kata-katanya kepada Allah setelah ia dipasung oleh imam Pasyhur menunjukkan sungut-sungutnya. Dia mengharapkan ibunya melakukan aborsi saat ia masih ada dalam kandungan, bahkan mengutuki hari kelahirannya sendiri. Tetapi di sisi lain ia tetap setia kepada Allah. Ia tetap memberitakan firman-Nya sekalipun mereka yang diajarnya tidak mau mendengarkannya.

Di tengah tekanan dan penolakan, Yeremia tak kuasa menolak panggilan Tuhan. Setiap kali ia berniat menolaknya, firman Allah seakan mau meledak dalam dirinya. Ada keinginan untuk meninggalkan pelayanan namun hati nuraninya menderita. Akhirnya ia memilih untuk setia melayani sekalipun ancaman dan tekanan terus membuntutinya. Biar pun menderita, Yeremia memiliki iman yang gigih kepada Allah. Ia terus memperjuangkannya.

Mengikut Kristus dan dikaruniai Roh Kudus tak menjadikan kita berkekuatan supranatural. Tidak pula membuat kita berkuasa atas dunia, ataupun memberikan jaminan kelimpahan dan kemapanan dalam segala hal. Sebaliknya, menjadi pengikut Kristus membuat hidup kita penuh tantangan dan risiko. Untuk memperjuangkan iman kita sering diperhadapkan dengan penderitaan, kepedihan, kelemahan, dan tekanan. Namun ada kekuatan, keberanian dan penghiburan dari Tuhan. Dapatkah kita merasakan sukacita di tengah penderitaan yang membuat kita setia mewujudkan iman kepada Tuhan

HIDUP YANG HARUS KITA JALANI TAK SELALU MUDAH
TETAPI PENYERTAAN TUHAN SELALU TINGGAL TETAP.

March 19, 2019

POT DIBAWAH KERAN AIR


Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:3)

Beberapa pot kecil berjajar rapi di bawah keran air. Saya menebak, maksud dari sang pemilik menempatkan pot-pot kecil itu di sana adalah supaya pot-pot itu selalu basah oleh air tanpa perlu repot-repot menyiramnya. Tetapi saya melihat bahwa tanah di dalam pot-pot kecil itu mengering dan daun-daun tanamannya pun menguning layu.

Sekalipun berada di bawah keran air, pot-pot bunga bisa saja tetap mengering. Berada di bawah keran air tidak menjamin pot-pot bunga itu tersiram air. Supaya tidak layu dan dapat bertumbuh dengan baik, pot-pot bunga itu harus dipastikan sering disiram dan basah sampai akarnya. Tidak sekadar mengharapkan percikan air yang mungkin mengenainya saat keran dibuka.

Begitu pula dengan hidup orang percaya. Rajin ke gereja tidak menjamin seseorang memiliki iman yang kuat, kehidupan yang benar, terlebih lagi menghasilkan buah bagi kemuliaan Tuhan. Iman dan kebenaran perlu diperjuangkan. Orang percaya harus mau repot jika ingin memelihara "hidup"-nya. "Air Hidup" yakni Roh Allah harus benar-benar membasahi hidup orang percaya. Sebab hanya ketika kita mau membuka diri, mengakui kelemahan, merendahkan hati dan menanggapi karya Roh Kudus kita akan mengetahui kehendak dan berkat Allah. Menerima masukan dan mau mengubah kebiasaan yang tidak sesuai dengan kebenaran adalah salah satu caranya. Mau terus bertumbuh sekalipun banyak tantangan. Tidak merisaukan masalah dan kegagalan karena tinggal di dalam firman-Nya membuat kita senantiasa menerima sumber hidup yang tidak pernah habis.

TINGGAL DI DALAM ALLAH TIDAK MENJAMIN KITA BEBAS MASALAH,
TETAPI SEBAGAI SUMBER HIDUP, ALLAH MENJADI JAMINAN ATAS HIDUP KITA.