ELKHANA BRYAN

April 06, 2019

MERASA DIABAIKAN


Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak K.audengar, aku berseru kepada-Mu: "Penind....asan!" tetapi tidak Kautolong? (Habaku.k 1:2)

Sepasang suami istri sedang berdoa untuk sebuah harapan. Tetapi tahun demi tahun berjalamn dan nyatanya doa itu tidak terwujud. Situasi malah makin memburuk. "Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar. Kami berseru dan Engkau tidak juga menolong?" serunya. Apakah kita juga sedang berseru kepada-Nya untuk sebuah keadaan yang sangat mendesak? Apakah kita sedang menanti-nantikan datangnya pertolongan Tuhan? Atau kapan Ia akan membebaskan hutang-hutang kita?

Nabi Hmabakuk dilanda perasaan yang sama. Ia pun berseru-seru: "Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar? Kapan Engkau akan menghentikan segala penindasan ini? Tuhan, mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku segala kejahatan ini? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku, perbantahan dan pertikaian terjadi." Hatinya tidak tahan menyaksikan kelaliman di depan matanya. Hatinya jengah karena merasa Tuhan seolah membiarkan dan mengabaikan ketidakadilan itu. Bisa saja ia berpikir, "Percuma, Ia tidak melakukan apa pun!"

Tak jarang, kita berpikir seperti Habakuk. Ketika harapan kita serasa diabaikan-Nya, kita pun merasa Tuhan tidak peduli dan melupakan kita. Namun sesungguhnya Tuhan tidak mengabaikan kita. Kita hanya diminta-Nya untuk tetap berharap dan percaya sampai Ia menjawabnya pada waktu-Nya. Dan Ia menghendaki kita belajar percaya meski sulit bagi kita untuk memahami jalan-jalan- Nya di tengah buruknya situasi kita.

SEKALIPUN KITA TIDAK AKAN PERNAH MAMPU MEMAHAMI JALAN-JALAN-NYA,
NAMUN KITA PERCAYA BAHWA JALAN-NYA ADALAH TERBAIK UNTUK KITA.

April 01, 2019

DIPUJI OLEH YESUS


Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan (Lukas 7:38)

Bapak pendeta memperhatikan seorang pemuda sedang merapikan perlengkapan gereja seusai kebaktian. "Kerja bagus!" puji pendeta. "Ah, ini cuma pekerjaan kecil, Pak, " jawab pemuda itu malu-malu. "Walaupun kecil, apa yang kamu kerjakan dipuji oleh Yesus, " kata pak pendeta sambil menepuk-nepuk pundaknya.

Ketika Yesus diundang makan di rumah orang Farisi, datanglah seorang perempuan kepada-Nya. Perempuan itu menangis, membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, mencium dan meminyaki kaki- Nya dengan minyak wangi (ay. 36-38). Si tuan rumah berpikir bahwa tindakan itu sia-sia. Bukankah perempuan itu adalah seorang pendosa? Hal itu tampak seperti pemborosan saja! Menariknya, Yesus memberikan respons berbeda. Apabila orang lain menyebut perempuan itu banyak berbuat dosa, Yesus justru menyebutnya banyak berbuat kasih (ay. 39, 44-47). Rupanya, standar pujian manusia jauh berbeda dari versi Allah! Oleh karena banyaknya kasih yang ditunjukkannya, Yesus pun mencurahkan kasih-Nya dengan mengampuni perempuan itu dari dosa-dosanya (ay. 48).

Tidak jadi masalah kalau apa yang kita lakukan (pekerjaan, pelayanan, dsb.) tampak kecil atau sepele di mata dunia. Kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Ingat, tujuan kita bukan agar seluruh dunia memuji kita! Apalah artinya dipuji orang banyak kalau tidak dipuji Allah? Agar mendapat pujian dari Tuhan, kita harus melakukan apa yang sekarang ini dipercayakan-Nya dengan penuh kesungguhan.

WALAUPUN MENDAPAT PUJIAN DARI SELURUH PENJURU DUNIA, SEGALA SESUATU
YANG KITA LAKUKAN TANPA DUKUNGAN ALLAH ADALAH HAL YANG SIA-SIA.