ELKHANA BRYAN

December 31, 2016

Semakin dekat


Tuhan tidak lambat menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelambatan, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya s (2 Petrus 3:9)

Tahun 2016 sudah hampir berlalu, tahun 2017 segera datang. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, penduduk dunia kembali merayakan pergantian tahun dengan meriah. Di berbagai tempat diadakan pesta, lengkap dengan kembang api dan acara menghitung detik-detik pergantian tahun. Dengan antusias, orang meninggalkan tahun lama dan menyambut tahun baru. Bersiap untuk mengisinya dengan harapan dan rencana yang sudah disiapkan.
Apa makna tahun baru bagi kita umat percaya? Sangat beragam jawaban yang bisa diberikan. Salah satunya, penggenapan janji Tuhan mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali sudah kian dekat. Tentu bagi mereka yang skeptis atau ragu, berakhirnya suatu tahun tanpa kedatangan-Nya membuat mereka bertambah tidak percaya. Namun, Rasul Petrus mengingatkan bahwa waktu yang masih bergulir bukanlah bukti bahwa janji- Nya itu tidak akan tergenapi. Hal itu sekadar suatu perpanjangan masa kesabaran Tuhan, supaya semakin banyak orang bisa dibawa kepada pertobatan dalam Tuhan Yesus.
Peringatan Petrus ini juga mengandung panggilan tugas bagi kita, yaitu untuk semakin giat mengabarkan Injil Tuhan. Bukankah pertobatan datang melalui pendengaran tentang Injil Yesus Kristus (Rm 10:17)? Karena itu, menjelang pergantian tahun ini, sambil terus menantikan kedatangan-Nya, mari bertekad untuk semakin giat mewartakan rahmat-Nya dan menjadi saksi-Nya di mana pun kita berada. Kiranya pada 2017 semakin banyak orang yang berbalik dan bertobat kepada-Nya melalui hidup kita. -
Renungan Harian
Bacaan: 2 Petrus 3:1-16
Wahyu 21-22
Selamat tahun baru.

December 22, 2016

Ibuku Pahlawanku


Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. (Amsal 31:29)

Pada Desember 2015, Litbang Kompas mengadakan survei dengan responden 1.640 siswa SMA di 12 kota di Indonesia. Mereka diminta menyebutkan sosok pahlawan dalam kehidupan mereka. Sebagian besar responden menyebutkan ibu masing-masing. Dalam benak mereka, pahlawan adalah orang yang melindungi saat diperlukan, suka menolong orang lain, dan menentang kejahatan. Ibu pula yang menjadi tempat berkomunikasi paling utama bagi para remaja.

Amsal 31:10-31 menggambarkan ibu sebagai pahlawan. Ibu berbuat baik sepanjang umurnya (ay. 12), senang bekerja keras (ay. 13, 16, 19, 27), menyiapkan makanan untuk keluarga (ay. 14, 15), menolong orang yang tertindas dan miskin (ay. 20), melindungi seisi rumahnya (ay. 21), berbicara dengan hikmat dan lemah lembut (ay. 26). Semua itu buah dari takut akan Tuhan (ay. 30).

Seminggu menjelang saya menikah, Ibu berbicara dari hati ke hati dengan pacar saya, "Mama tahu anak ini sangat sensitif dan perasa. Tolong kamu jaga dia, jangan kamu sakiti dia." Ternyata perkataan ibu ini sangat membekas dalam hati pacar saya sehingga ia menjadi suami yang menjaga dan menyayangi saya sampai sekarang.

Bersyukurlah para ibu yang mendapat kepercayaan untuk mendampingi suami dan anak-anak. Kiranya para ibu dikaruniai hikmat dan pimpinan Tuhan, agar menjadi istri dan ibu yang cakap. Istri dan ibu yang cakap akan mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan bagi suami dan anak-anak. Dan keluarga yang berbahagia dapat menjadi berkat bagi masyarakat sekitarnya.


Bacaan: Amsal 31:10-31
2 Yohanes 1 -- Yudas 1

December 20, 2016

Kasih yang Palsu


Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri- Nya baginya. (Efesus 5:25)

"Kita cerai!" Teriakan disertai kemarahan seperti ini biasa menghiasi sinetron yang ditayangkan televisi kita. Sayangnya, hal ini juga mulai biasa terjadi dalam kehidupan nyata, tidak terkecuali di tengah orang Kristen. Sudah tidak lagi saling mengasihi, begitu alasan yang sering dipakai. Lalu ke manakah kasih yang dahulu ketika memulai pernikahan? Sudah habis? Luntur? Ataukah memang kasihnya hanya berkualitas palsu?

Firman Allah memerintahkan pasangan suami-istri untuk membangun hubungan pernikahan di atas dasar kasih Kristus. Suami dipanggil untuk mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat (ay. 25), ada pun istri dipanggil untuk menundukkan diri pada suami seperti kepada Tuhan (ay. 22). Hubungan kasih antara Kristus dan jemaat menjadi tolok ukur hubungan kasih suami-istri (ay. 32). Kasih Kristus yang kekal adalah dasar yang teguh untuk membangun hubungan pernikahan di tengah dunia yang berubah-ubah dan penuh tantangan ini.

Jika Allah tidak hadir dalam hidup seseorang, mustahil baginya untuk mengalirkan kasih yang sejati kepada pasangannya. Ia tidak memiliki sumber kasih yang sejati. Sumber kasihnya hanyalah perasaan yang bisa memudar, ketertarikan fisik, atau hal-hal lain yang fana, bukan kasih Kristus yang kekal. Sebaliknya, ketika kita tinggal di dalam kasih Kristus, kasih-Nya itu akan mengalir dari hati kita kepada pasangan kita. Kasih-Nya yang sempurna akan memampukan kita mengasihi dan menghormati pasangan kita yang tidak sempurna.
-Renuangan harian
Gbu


Efesus 5:22-33
1 Yohanes 1-3

December 18, 2016

Mengoyakkan pakain(munafik) atau mengoyakkan hati (merendahkan diri dihadapn tuhan)


Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaiamu. [Yoel 2:13]

Mengoyakkan pakaian dan tanda-tanda emosi agamawi yang tampak dari luar, mudah untuk dilakukan dan seringkali munafik; tetapi merasakan pertobatan sejati adalah hal yang jauh lebih sulit, dan alhasil jauh lebih tidak lazim. Orang akan taat pada peraturan upacara yang paling rumit dan rinci — sebab hal-hal itu menyenangkan daging — tetapi agama yang sejati terlalu merendahkan hati, begitu menyelidiki hati, terlalu teliti bagi selera manusia daging; mereka lebih suka pamer, yang lemah, dan yang duniawi. Ketaatan lahiriah nyaman untuk sementara; mata dan telinga disenangkan; keangkuhan diri dipuaskan, dan pembenaran diri ditinggikan: tetapi semuanya pada akhirnya menyesatkan, karena dalam saat kematian, dan pada hari penghakiman, jiwa kita membutuhkan sandaran yang lebih substansial daripada sekedar upacara dan ritual keagamaan. Tanpa kesalehan vital, semua agama sungguh sia-sia; demikian pula tanpa hati yang tulus, setiap bentuk ibadah adalah tiruan yang khusyuk dan penghinaan yang lancang kepada Yang Mahabesar di sorga.

Mengoyakkan hati dikerjakan secara ilahi dan dirasakan secara khidmat. Mengoyakkan hati merupakan kesedihan rahasia yang dialami secara pribadi, bukan sekedar merupakan bentuk, tetapi sebagai pekerjaan Roh Kudus yang mendalam, yang menggerakkan jiwa dalam setiap orang percaya. Mengoyakkan hati bukan hal yang tinggal dibicarakan dan dipercayai saja, melainkan harus dengan tajam dan peka dirasakan setiap anak yang hidup dari Allah yang hidup. Mengoyakkan hati merendahkan diri kita secara dahsyat, dan menghapuskan dosa secara menyeluruh; tetapi juga merupakan persiapan yang manis untuk penghiburan yang penuh rahmat, yang tidak dapat diterima roh-roh yang sombong dan memegahkan diri; mengoyakkan hati juga membedakan secara jelas umat yang dipilih Allah, sebab tindakan ini hanya ada pada mereka.

Ayat ini menyuruh kita mengoyakkan hati kita, tetapi hati kita secara alami keras seperti batu pualam: kalau begitu, bagaimana mungkin dilakukan? Kita harus membawa hati kita ke Kalvari: suara Juruselamat yang sekarat itu pernah mengoyak batu karang, dan saat ini pun sama berkuasanya. Oh Roh yang terpuji, izinkan kami mendengar tangisan kematian Yesus, agar hati kami terkoyak seperti orang mengoyak pakaiannya waktu meratap.

____________________
Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

December 17, 2016

Lewat Jalan yang Patut



Akuilah Dia dalam segala lakumu. (Amsal 3:6)

Media massa dironai kabar-kabar buram. Siswa mengejar kelulusan lewat bocoran soal. Calon mahasiswa menyiasati seleksi dengan bantuan joki. Pungli berkelanjutan sampai sekarang. Dan, kabar-kabar buruk lainnya. Orang menggapai sesuatu lewat jalan-jalan tak bermoral. Pertanyaannya: Patutkah orang bersyukur atas sesuatu yang diperoleh lewat jalan semacam itu?

Alkitab menasihati, "Akuilah Dia dalam segala lakumu." Itu bukan sekadar mengakui bahwa Dia ada. "Mengakui Dia" adalah mengakui kedaulatan-Nya atas semua sisi kehidupan. Karenanya, itu hanya bisa diwujudkan dengan memberlakukan kehendak-Nya dalam semua hal.

Syukur adalah pengakuan dan penghormatan kepada Tuhan. Berarti, hal yang kita peroleh patut kita syukuri hanya jika kita menggapainya lewat jalan-jalan yang di dalamnya kita "mengakui Tuhan". Lulus ujian lewat bocoran tak patut disyukuri karena di sana Tuhan tidak diakui. Lolos seleksi lewat joki tak patut disyukuri karena jalan itu tidak mengakui Tuhan. Buah dari pemerasan tak layak disyukuri karena jalan-jalan pemerasan tidak mengakui Tuhan.

Memang, moralitas jalan yang ditempuh menentukan apakah hasilnya patut disyukuri. Hanya hal-hal yang diupayakan lewat jalan yang berkenan bagi Tuhanlah-yakni, yang di dalamnya kita "mengakui Tuhan"- yang dapat disebut sebagai hal yang baik, dan dengan demikian patut disyukuri. Sesungguhnyalah, syukur hanya patut dinaikkan untuk hal-hal yang diperoleh lewat jalan-jalan yang memang patut.



Bacaan: Amsal 3:1-6
                1 Petrus 1-2

December 16, 2016

Apa Arti Ibadahmu?


Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. (Yosua 24:14)

Pemandu Kidung Jemaat 264 karya Mercy Tampubolon sebagian syairnya berbunyi, "Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan bila tiada rela sujud dan sungkur? Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan bila tiada hati tulus dan syukur?" Di bagian lain, lagu itu kembali menyodorkan pertanyaan kepada kita, "Apakah kita benar-benar beribadah dengan tulus ikhlas dan setia kepada Dia?" Tulus dan setia-dua kata yang perlu digarisbawahi.

Acapkali kita menjadikan ibadah sebagai sebuah rutinitas. Beribadah karena sebuah keharusan, atau beribadah dengan tujuan untuk mendapatkan berkat. Kita tidak sungguh-sungguh saat beribadah, tidak jarang kita masih asyik dengan gadget atau ngobrol dengan teman. Bahkan, bisa jadi kita malah tertidur saat ibadah sedang berlangsung.

Beribadah dengan tulus ikhlas berarti kita membawa diri kepada Tuhan, dan datang menyembah dengan menanggalkan segala kepentingan diri. Ketika beribadah kita sedang menyembah Tuhan, Raja yang memiliki hidup kita. Rela meninggalkan segala kepentingan kita untuk benar-benar menyembah, memuji, dan mengagungkan Tuhan, sebagai wujud syukur kita atas kasih karunia dan anugerah-Nya. Dia hadir sebagai Raja dan Allah yang Mahakudus dalam setiap ibadah kita.

Saat menghadap atasan atau pimpinan, kita bisa begitu tunduk dan hormat. Saat menghadap Tuhan, kita sepatutnya bersikap lebih baik dari itu. Kita menghadap Allah yang Mahakuasa atas kehidupan kita. Sudahkah kita benar-benar menyembah-Nya dengan tulus ikhlas dan setia? .


Jbu


Bacaan: Yosua 24:14-18
Setahun: Yakobus 1-5


December 14, 2016

Mau Hidup



Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. (Yehezkiel 18:28)

Banyak orang meyakini bahwa dosa orang tua menurun pada anak. Kutuk juga dianggap menurun. Kesalahan adalah sesuatu yang diwariskan. Pandangan ini juga cukup kuat dalam Taurat. Juga demikian halnya dalam pemikiran orang Kristen sekarang ini. Apakah pemahaman ini benar?

Kitab Yehezkiel 18 menolak hal ini. Bagi nabi, sindiran "ayah-ayah makan buah mentah, gigi anak-anak menjadi ngilu" (ay. 2) itu salah. Bila orang berbuat dosa, ia sendiri yang akan menanggung akibatnya (ay. 4). Anak tak lagi menanggung dosa orang tuanya. Dosa adalah urusan pribadi, bukan warisan. Ini pandangan yang cukup radikal pada masanya.

Alasannya, "semua jiwa Aku punya" (ay. 4). Maksudnya, hidup ayah maupun anak ditentukan oleh Tuhan. Hidup anak adalah urusan sang anak dengan Tuhan dan bukan sebagai konsekuensi dosa orangtua. Jadi, setiap orang berdosa harus menyadari bagiannya dan berpaling dari dosanya (ay. 30-32).

Bagi nabi masalah hukuman adalah masalah pribadi, demikian pula dengan hal hidup. Yang penting jangan lagi merasa hidup di bawah karma orang tua. Hidup kita dicapai melalui pertobatan, peralihan diri seutuhnya kepada Tuhan. Siapa yang beralih dari kutuk karma ke kasih Tuhan akan mengalami kehidupan. Hidup setiap orang adalah pergumulan orang itu dengan Tuhan. Jadi, bila seseorang ingin hidup, ia perlu mengarahkan hidupnya sendiri pada Tuhan. Tak bisa ia mengandalkan jerih juang iman orang. Hidup adalah soal kesungguhan pribadi kita dalam beralih kepada Tuhan.

Bacaan: Yehezkiel 18:1-32
Ibrani 8-10

Gbu




December 13, 2016

Garam tidak terbatas



Garam tidak terbatas. [Ezra 7:22]

Garam digunakan untuk setiap persembahan bakaran untuk Tuhan, dan berdasarkan sifatnya yang mengawetkan dan memurnikan itu, garam adalah lencana ucapan syukur atas anugerah ilahi yang ada di dalam jiwa. Layak kita perhatikan bahwa, ketika Artahsasta memberikan garam kepada imam Ezra, ia tidak membatasi jumlahnya, dan kita pun bisa cukup yakin bahwa ketika sang Raja di atas segala raja memberikan anugerah kepada imam-imam-Nya yang setia, persediaannya tidak akan dibatasi oleh Dia. Kita sering serba kurang di dalam diri kita sendiri, tapi tidak pernah kekurangan di dalam Tuhan. Ia yang mengumpulkan banyak manna akan mendapatkan dirinya menemukan sebanyak yang ia harapkan. Di Yerusalem tidak ada kelaparan yang mengharuskan penduduknya makan roti dan minum air yang sudah diukur terlebih dahulu. Beberapa hal dalam ekonomi anugerah memang diukur; misalnya cuka dan racun diberikan kepada kita dengan dosis yang begitu tepat sehingga kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak setetes pun, tetapi untuk garam anugerah tidak diberi batas, "Mintalah yang engkau kehendaki dan yang engkau minta akan diberikan kepadamu." Orang tua perlu mengunci lemari buah, dan botol permen, tapi tempat garam tidak perlu dikunci dan digembok, karena hampir tidak ada anak kecil yang rakus akan garam. Seseorang bisa memiliki terlalu banyak uang, atau terlalu banyak harga diri, tetapi ia tidak bisa memiliki terlalu banyak anugerah. Ketika Yesyurun menjadi gemuk dalam kedagingannya, ia menendang ke belakang melawan Allah [Ulangan 32:15], tetapi kita tidak perlu takut seseorang terlalu kenyang dalam anugerah: terlalu banyak anugerah adalah hal yang mustahil. Makin banyak harta menimbulkan makin banyak urusan, tetapi makin banyak anugerah menghasilkan makin banyak sukacita. Hikmat yang meningkat merupakan kesedihan yang meningkat [Pengkhotbah 1:18], tetapi limpahnya Roh Kudus adalah penuhnya sukacita. Orang percaya, pergilah menghadap ke takhta untuk mendapatkan garam surgawi yang tidak terbatas. Garam itu akan membumbui kesusahanmu, yang rasanya hambar tanpa garam; itu akan mengawetkan hatimu yang akan membusuk jika garam tidak ada, dan garam itu akan membunuh dosa-dosamu seperti garam membunuh reptil. Engkau perlu banyak; mintalah banyak-banyak, dan milikilah banyak-banyak.

____________________

(diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

December 12, 2016

Kemarahan yang Sia-sia

Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. (Mazmur 90:5-6)
Usia nenek Peni saat itu 61 tahun. Ia tinggal di panti jompo. Ketika usianya baru menginjak dua puluhan tahun, ia bertengkar hebat dengan sang kakak, gara-gara rumah warisan. Ia kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kakaknya. Lalu, ia menjalani hidupnya dengan berpindah-pindah kota. Rumah warisan yang diperebutkan itu nantinya jatuh ke tangan orang lain. Nenek Peni menyesal, mengapa dahulu harus ada kemarahan, harus ada pertengkaran yang bertahan lama seperti bara api? Hidup ini terlalu singkat hanya untuk mempertahankan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Perasaan Kain bisa jadi mirip dengan perasaan nenek Peni. Penyesalan. Setelah semuanya terjadi, setelah kemarahan dan emosinya meledak terhadap Habel, ternyata sia-sia meraih kemenangan dengan cara seperti itu, ternyata tidak ada artinya mempertahankan egoisme diri. Oh, ternyata pemuasan kemarahan yang semula "mengintip" itu hanya terjadi sesaat (ay. 6-7). Dan, selanjutnya yang terjadi adalah ia harus kehilangan sang adik (ay. 8), hidupnya tidak tenteram. Ia harus menjadi pengembara di bumi (ay. 11-12). Di ujung cerita tentang kemarahan itu, Kain dan kita dapat menyadari kebenaran doa Musa: betapa cepat dan singkatnya waktu hidup ini. Jadi, betapa sia-sianya kemarahannya itu.
Apakah kita sedang berlarut-larut dalam kemarahan menahun? Ketika kita kembali melihat cepatnya waktu ini berlalu dan singkatnya hidup kita yang seumpama rumput, sesungguhnya kemarahan tak banyak membawa makna.
Bacaan: Kejadian 4:1-1
Ibrani 1-4

December 11, 2016

Sederajat dan Sama


Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:27)

Simone de Beauvoir, seorang sosiolog, menulis buku The Second Sex. Ia menggugat pandangan yang menempatkan laki-laki secara hakiki lebih daripada perempuan sehingga lelaki adalah The First (yang pertama) dan perempuan adalah The Second (yang kedua).
Dalam catatan Kitab Kejadian, lelaki dan perempuan, karena mereka adalah manusia, sama-sama berstatus sebagai gambar dan rupa Allah. Ini konsep kesetaraan gender secara teologis yang penting untuk kita resapi, justru di tengah-tengah pandangan hidup yang menempatkan perempuan sebagai sekadar "kanca wingking" (teman yang bertugas di bagian belakang). Konsep yang merendahkan perempuan ini perlu diletakkan dalam terang kisah Penciptaan. Sudah saatnya para lelaki bertobat dan berubah pandangan, dari sikap merasa diri lebih penting daripada perempuan ke sikap penuh hormat dan tulus. Demikian pula para perempuan, perlu mengubah pandangan dari "kelas dua" ke "kelas utama". Memang tugas dan fungsi domestik masih dipengaruhi oleh kesepakatan sosial. Ini tidak masalah sejauh tidak meletakkan perempuan secara hakiki sebagai "lebih rendah" dibandingkan dengan laki-laki.
Coba periksa anak dan cucu kita. Mana yang lebih kita sukai? Yang lelaki atau perempuan? Apa alasan kita? Bila alasan kita berpusat pada konsep perempuan sebagai manusia kedua, kita berjalan dan berpikir di jalur yang keliru dan tak Alkitabiah. Jadi, berbaliklah! Cintailah baik yang lelaki maupun yang perempuan sebagaimana mereka ada: sebagai gambar dan rupa Allah!.
Selamat hari minggu
Bacaan: Kejadian 1:26-31
Titus 1-Filemon 1

Prepare christmas

M3nanti chirismas

December 10, 2016

Manisnya pengharapan dalam Tuhan


Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. [1 Tesalonika 4:17]
Bahkan kunjungan yang termanis dari Kristus, betapa pendeknya — dan betapa sebentarnya! Satu waktu kita melihat Dia, dan kita gembira dengan sukacita yang penuh kemuliaan dan tidak terkatakan, namun sedikit waktu berlalu dan kita tidak melihat-Nya, karena Kekasih kita menarik diri-Nya dari kita; seperti kijang atau rusa muda melompati gunung-gunung pemisah, Ia telah pergi ke dataran rempah-rempah, dan tidak lagi menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung [Kidung Agung 2:16].
    “Jika hari ini Ia sudi memberkati kita
    Dengan rasa pengampunan dosa
    Esok Ia mungkin menyesakkan kita,
    Membuat kita merasakan tulah di dalam.”

Oh, betapa manisnya pengharapan akan masa di saat kita tidak lagi melihat Dia dari kejauhan, tetapi melihat-Nya berhadapan muka: ketika Ia tidak lagi seperti pelancong yang menginap semalam saja, melainkan dalam kekekalan membungkus kita dalam pangkuan kemuliaan-Nya. Kita tidak akan melihat-Nya untuk beberapa musim, tapi
    “Berjuta tahun mata kita akan kagum
    menjelajahi keindahan Juruselamat kita;
    Tak terhitung zaman kita akan puja
    keajaiban kasih-Nya.”

Di surga, gelisah dan dosa tidak lagi menghalangi; tangisan tidak lagi meremangkan mata kita; hal duniawi tidak lagi mengaburkan pikiran kita yang berbahagia; kita tidak lagi memiliki hambatan untuk memandang terus-menerus kepada Matahari Kebenaran dengan mata yang tidak pernah letih. Oh, jika melihat-Nya sekali-kali saja sudah begitu manisnya, terlebih lagi memandang wajah suci itu, ketika tak ada awan yang bergulir menghalangi, dan tak perlu memalingkan mata kita kepada dunia yang letih dan celaka! Hari penuh berkat, kapankah engkau tiba? Terbitlah, Oh surya yang takkan terbenam! Indera sukacita dapat meninggalkan kita sesegera yang diinginkannya, sebab hal ini akan menggantikannya. Jikalau mati berarti memasuki persekutuan dengan Yesus tanpa halangan, maka benarlah bahwa mati adalah keuntungan, dan tetesan kelam itu ditelan laut .
Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

December 09, 2016

Tanggung Jawab Besar


Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10)

Sebelum meninggal, Ben, paman Peter Parker, mengucapkan kalimat yang sederhana namun makna arti, "Sebuah kekuatan besar selalu dibarengi dengan sebuah tanggung jawab besar." Perkataan itu membekas dalam diri Peter, dan menjadi semacam kompas moral baginya ketika ia bertualang sebagai Spiderman.

Musa mendapatkan suatu tanggung jawab besar dari Tuhan Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Pada saat itu Musa merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengemban tanggung jawab tersebut. Ia berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin bangsa Israel, ia harus pandai bicara, sedangkan ia orang yang tidak fasih berbicara di muka umum (ay. 10). Namun, Tuhan sendiri yang berjanji akan menyertai dan mengajari Musa dalam berkata-kata (ay. 12, 14). Dari awal pelayanan hingga akhirnya Musa meninggal dunia, Tuhan Allah membuktikan bahwa Musa memiliki kemampuan menjadi pemimpin karena Tuhan yang menyertainya. Penyertaan Tuhan menguatkan Musa memikul tanggung jawab itu.

Jika saat ini kita merasa tanggung jawab yang kita emban begitu berat, percayalah bahwa Tuhan menyertai kita. Dia akan memberi kita kekuatan yang sepadan dengan besarnya tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada kita. Sebaliknya, jika kita merasa memiliki kemampuan yang besar, namun kita hanya memikul tanggung jawab yang kecil, bersabarlah. Musa pun, sebelum dipanggil menggembalakan bangsa yang besar, belajar setia dan bertanggung jawab sebagai seorang gembala kambing domba

SPP/Renungan Harian
Gbu

Bacaan: Keluaran 4:1-17
               1 Timotius 1-6

December 08, 2016

Pembenaran akan Iman


Di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya, mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. [Wahyu 3:4]

Kita dapat memahami hal ini mengacu kepada pembenaran. ”Mereka akan berjalan dalam pakaian putih”, yaitu, mereka akan menikmati pengertian yang terus-menerus bahwa mereka sudah dibenarkan melalui iman; mereka akan mengerti bahwa kebenaran Kristus diperhitungkan sehingga mereka semua telah dibasuh dan dijadikan lebih putih daripada salju yang baru jatuh.

Sekali lagi, ini mengacu kepada sukacita dan kegembiraan: karena pakaian putih adalah pakaian hari raya bagi orang Yahudi. Mereka yang belum mencemarkan pakaiannya akan memiliki wajah yang selalu berseri, mereka akan mengerti apa yang Salomo maksudkan lewat perkataannya, “Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang. Biarlah selalu putih pakaianmu, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.” [Pengkhotbah 9:7] Ia yang diterima Allah akan mengenakan pakaian putih sukacita dan kegembiraan, ketika ia berjalan dalam persekutuan yang manis dengan Tuhan Yesus. Mengapa terdapat banyak keraguan, banyak penderitaan, dan ratapan? Karena banyak sekali orang percaya yang mengotori pakaian mereka dengan dosa dan kesalahan, karena itu mereka kehilangan sukacita keselamatan mereka, dan persekutuan yang nyaman dengan Tuhan Yesus, dari bawah sini mereka tidak berjalan dalam pakaian putih.

Janji ini juga mengacu kepada berjalan dalam pakaian putih di hadapan tahkta Tuhan. Mereka yang tidak mencemarkan pakaiannya di sini pasti akan berjalan dalam pakaian putih di sana, di mana sejumlah besar yang berpakaian putih menyanyikan haleluya terus menerus kepada yang Maha Tinggi. Mereka akan beroleh sukacita yang tidak terbayangkan, kegembiraan yang melampaui mimpi, kebahagiaan yang imajinasipun tidak mengetahui, kepenuhan berkat yang bahkan tidak pernah tergapai hasrat. Yang “hidupnya tidak bercela” [Mazmur 119:1] akan memiliki semua ini — bukan oleh jasa, bukan oleh perbuatan, namun oleh kasih karunia. Mereka akan berjalan bersama Yesus dalam pakaian putih, karena Ia telah membuat mereka “layak.” Dalam persekutuan manis dengan-Nya mereka akan minum dari mata air kehidupan.

____________________
Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

December 07, 2016

PENCOBAAN HIDUP


Anak Allah Dicobai?
Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar. (Lukas 4:2)

Yesus sebagai Anak Allah dicobai oleh Iblis dengan tiga cara. Pertama, agar mengubah batu menjadi roti. Kedua, agar menerjunkan diri dari bubungan Bait Allah dan meminta Allah menatangnya. Ketiga, menjanjikan semua kekuasaan di bumi jika Dia mau menyembah Iblis. Tetapi, tidak ada satu pun dari pencobaan itu yang dipenuhi-Nya. Dia menolak dengan cara yang unik, yaitu mengutip firman Tuhan yang tertulis dalam kitab Taurat dan Mazmur. Yesus membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah yang hanya taat kepada Bapa-Nya. Dia tidak mencari kepuasan bagi kebutuhan jasmani-Nya, melakukan aksi spektakuler dengan kemampuan-Nya, atau bersahabat dengan Iblis demi kekuasaan politik.

Kita hidup di dunia yang mengukur kesuksesan seseorang berdasarkan kepemilikan, pengaruh dan besarnya kekuasaan yang dimiliki orang itu. Tidak sedikit dari mereka yang dulunya berapi-api dalam Tuhan seketika berbalik kala tidak tahan hidup dalam kekurangan atau kala ditawari kekuasaan dan jabatan yang menggiurkan. Bukan hanya itu. Banyak orang yang mencari pengaruh dan kekuasaan tanpa memperhatikan keadilan dan moralitas.

Anak Allah seperti apakah kita? Sikap kita dalam menghadapi pencobaan akan menggambarkan identitas kita dalam Kristus. Karena itu, mari kita meneladani sikap Yesus dalam menghadapi pencobaan. Jangan biarkan kepuasan jasmani, pengaruh, dan kekuasaan menggeser Kristus dari hidup kita. Sebab hanya di dalam Dia kita dapat memiliki kehidupan yang sejati.

Renungan Harian

Bacaan: Lukas 4:1-13
Setahun: 1 Tesalonika 1-5 

December 06, 2016

"STEREOTIP"


Mengeruhkan dan Memelesetkan
Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. (Mazmur 19:13)

Saya punya klip video berisi penggalan ibadah Natal berbahasa Arab di sebuah gereja. Biduanita melantunkan lagu-lagu Natal, jemaat menanggapinya, berganti-ganti. Ketika saya mempelihatkannya pada seorang teman, ia kaget dan melontarkan komentar bernada tak percaya, "Lho, di negeri yang berbahasa Arab kok ada gereja?"

Kita memiliki banyak stereotip, yakni anggapan bahwa semua hal dengan ciri yang sama pasti memiliki sifat yang sama. Semua orang Arab pasti Islam. Semua orang Tionghoa pasti pintar berdagang. Kawan dari luar Jawa lugas, tanpa basa-basi, apa adanya. Dan, banyak lagi.

Stereotip sebenarnya wajar, namun ketika dimutlakkan sebagai fakta dan menjadi stigma, tentu tidak elok. Stereotip membuat persepsi dan penilaian terhadap sesuatu menjadi tidak jernih, dan berbuah kekeliruan. Meyakini bahwa yang berbahasa Arab pasti Islam, misalnya, jelas keliru karena di negara-negara Arab pun ada gereja dan orang Kristen. Juga, tidak semua orang Tionghoa senang berdagang.

Masalahnya, stereotip tidak selalu disadari, keberadaannya maupun kekeliruannya. Meminjam istilah pemazmur, stereotip adalah salah satu "kesesatan yang tidak disadari". Bagaimana kita bisa bebas dari "kesesatan yang tak disadari" itu? Sulit, sangat sulit. Karena itu, pemazmur memohon, "Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari." Mazmur 19:13 adalah isyarat agar kita berjuang mengenali stereotip yang kita hidupi dan bersikap kritis terhadapnya, serta gigih memurnikan pikiran dan hati kita.


 EE/Renungan Harian
Bacaan: Mazmur 19                                           : Kolose 1-4 

December 05, 2016

"Kemiskinan dan kebodohan"


Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:40)

Pada abad ini sama seperti abad IV, (Kaisar Julian berusaha menekan perkembangan Kekristenan di wilayahnya dengan mengangkat kembali agama politeisme Romawi.) Masalahnya, ada satu fakta yang disadari akan menjadi penghambat bagi rencananya ini. Selama ini pemerintah yg berkuasa sering tidak peduli pada nasib warganya sendiri yang dikekang kemiskinan dan kebodohan. Sebaliknya, orang Kristen justru dikenal rajin memberi bantuan sosial, tidak hanya kepada sesama jemaat, tetapi juga mereka yang tidak seiman.

Sikap jemaat Kristen ini adalah perwujudan langsung dari perintah Yesus yang tertulis dalam bacaan Alkitab hari ini. Di situ Tuhan Yesus mengajarkan bahwa melayani Dia berarti melayani orang lain yang membutuhkan. Ketika kita memberi makan mereka yang kelaparan, Tuhan Yesus sedang kita beri makan juga. Ketika kita menjamu mereka yang sedang dalam perjalanan, Tuhan Yesus sedang kita jamu juga.

Kita hidup di dunia yang penuh dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Begitu banyak orang yang miskin pada zaman ini. Di tengah situasi ini, kita terpanggil untuk menjadi saluran berkat bagi mereka. Masalahnya, sering kita justru sibuk dengan hal-hal lain yang tidak terlalu penting atau bahkan sama sekali tidak peduli. Kita harus bertobat dan kembali menjadi umat yang setia mengerjakan panggilan kita. Hal ini bisa dimulai dengan kita pribadi demi pribadi. Kita dapat bertindak membantu mereka yang membutuhkan bantuan di sekitar kita sesuai dengan kapasitas serta kemampuan kita masing-masing.

 Bersediakah kita Melayani Yesus?..

Bacaan: Matius 25:31-46
             : Filipi 1-4

 ALS/Renungan Harian

December 04, 2016

Kasih tuhan akan kita


Sebab banyak umat-Ku di kota ini. [Kisah Para Rasul 18:10]

Ini harusnya sangat mendorong kita untuk berusaha berbuat baik, karena di antara yang paling jahat dari yang jahat, yang paling bajingan, yang paling tidak bermoral dan mabuk, Allah memiliki orang-orang pilihan yang harus diselamatkan. Ketika engkau membawa Firman kepada mereka, engkau melakukannya karena Allah telah menetapkan engkau sebagai utusan kehidupan kepada jiwa mereka, dan mereka harus menerimanya, sebab demikianlah dekrit predestinasi. Mereka ditebus oleh darah sama banyaknya dengan orang-orang kudus di hadapan singgasana yang kekal. Mereka adalah kepunyaan Kristus, walaupun mungkin sekaligus pecinta tempat minum-minum, dan pembenci kekudusan; namun jika Yesus Kristus telah membeli mereka, Ia akan memiliki mereka. Allah bukanlah Allah yang tidak setia hingga melupakan harga yang telah dibayar Anak-Nya. Ia sedikit pun tidak membiarkan tindakan substitusi-Nya menjadi tidak berguna dan mati. Puluhan ribu umat tebusan belum dilahirbarukan, namun mereka akan dilahirbarukan; dan inilah penghiburan bagi kita ketika kita pergi kepada mereka dengan Firman Allah yang menghidupkan.

Bahkan lebih daripada itu, orang-orang fasik ini didoakan Kristus di hadapan singgasana. “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa,” [Yohanes 17:20] kata Pendoa Syafaat yang agung, “tetapi juga untuk orang-orang yang akan percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka.” [Yohanes 17:20] Jiwa yang miskin dan bebal, mereka tidak mengetahui apa-apa mengenai doa untuk diri mereka sendiri, namun Yesus berdoa bagi mereka. Nama mereka ada di tutup dada-Nya, dan lutut mereka segera bertelut, menghembuskan desahan penyesalan mereka di hadapan singgasana anugerah itu. “Memang bukan musim buah ara.” [Markus 11:13] Saat yang dipredestinasikan belum tiba; namun ketika tiba, mereka akan taat, karena Allah akan memiliki kepunyaan-Nya; mereka harus, karena Roh tidak dapat ditentang ketika Ia datang dengan kepenuhan kuasa-Nya — mereka harus menjadi hamba yang rela dari Allah yang hidup. "Bangsa-Ku merelakan diri untuk maju pada hari tentara-Ku." [Mazmur 110:3] “Dia akan membenarkan banyak orang.” [Yesaya 53:11] “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang.” [Yesaya 53:11] “Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan.” [Yesaya 53:12]

____________________
(diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

December 03, 2016

"Tidak Seperti Seorang Ayah"


Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya. (2 Tawarikh 28:1)

Saya sering mendengar penilaian beberapa rekan saya yang mengatakan, "Kamu mirip sekali dengan ayahmu." Rupanya perawakan yang tinggi dan wajah saya yang mirip dengan ayah menyebabkan mereka mengatakan hal itu. Dalam hal penampilan, pepatah "Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga" berlaku bagi saya.

Kemiripan jasmani antara orangtua dan anak tentu lazim. Namun, dalam hal karakter, tidak jarang terjadi perbedaan yang nyata, bahkan bertolak belakang. Raja Yotam, misalnya. Ia adalah raja yang takut akan Tuhan. Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan (2 Taw 27:2). Ia meraih banyak prestasi karena ia mengarahkan hidupnya kepada Tuhan (2 Taw 27:6). Namun, karakter sang ayah ini berbanding terbalik dengan karakter anaknya. Iman Yotam ternyata tidak diwarisi oleh putranya. Ahas, anak Yotam, justru melakukan perkara yang jahat di mata Tuhan (ay. 1). Ia tidak menyembah Allah, namun menyembah Baal (ay. 2) dan juga melakukan ritual seperti bangsa-bangsa lain yang menyembah Baal (ay. 3-4). Ia tidak mencatat prestasi cemerlang seperti ayahnya. Sebaliknya, ia dan rakyat Yehuda justru menerima hukuman dari Tuhan (ay. 5-8, 16-25).

Bagaimana dengan kita? Jika Tuhan menyebut kita adalah anak-anak-Nya, dan Dia adalah Bapa kita, kita dipanggil untuk hidup serupa dengan Dia. Syukurlah, Allah tidak menuntut kita untuk mengusahakannya sendiri, melainkan memberikan Roh-Nya untuk memimpin kita (lih. Rm 8:14). Kiranya hidup kita dari hari ke hari memancarkan karakter Allah.


Tuhan yesus memberkati

Bacaan: 2 Tawarikh 28:1-27
Efesus 1-3 


December 02, 2016

"Jangan mencari Nama"


Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi. (Kejadian 11:9)

Tahukah Anda jumlah bahasa di dunia ini? Ribuan! Bahasa yang berbeda membuat manusia terpisah. Bahasa yang sama membuat manusia berkumpul. Untuk bisa memperluas perkumpulan dan pergaulan, manusia perlu menguasai lebih dari satu bahasa. Itulah gunanya kita belajar bahasa asing, bukan?

Menara Babel adalah asal-muasal keragaman bahasa. Sebelum itu, bahasa dan logat manusia hanya satu (ay. 1). Dalam kesatuan bahasa ini, manusia begitu hebat sehingga bertekad membangun kota dengan menara yang puncaknya sampai ke langit. Tujuan mereka mencari nama dan agar tidak terserak ke seluruh bumi (ay. 4). Dengan demikian, komunitas manusia akan semakin kokoh dipadukan oleh satu bahasa. Tuhan rupanya punya rencana lain. Dia bermaksud menyebarkan manusia ke seluruh penjuru bumi, bukan mengumpulkan mereka di satu tempat, sesuai dengan perintah awal pada manusia (Kej 1:28). Caranya? Dengan memporakporandakan kesatuan bahasa. Orang yang tak sebahasa tak akan menyatu. Penyebaran pun mulai terjadi, mereka "terserak dari situ ke seluruh penjuru bumi dan berhenti mendirikan kota itu" (ay. 8).

Tuhan menentang kecenderungan manusia untuk memusatkan diri pada kekuatannya sendiri. Ketunggalan konsentrasi manusia dalam memupuk kejayaan dan mencari nama bagi diri sendiri tidak sejalan dengan kehendak-Nya.

Nah, siapakah atau apakah yang paling menggerakkan setiap karya kita? Nama Tuhan atau nama diri sendiri? Kejayaan Tuhan atau kejayaan kita sendiri? Kiranya menara Babel dapat menjadi peringatan abadi.


Tuhan Yesus memberkati kita semua
Bacaan: Kejadian 11:1-9
Setahun: Galatia 4-6

December 01, 2016

"Secukupnya dan cukupkan"


Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. (Amsal 30:8)

Suatu ketika saya pergi ke restoran yang menawarkan paket makan sepuasnya. Saya makan sebanyak-banyaknya sampai kekenyangan. Begitu kenyang, sampai saya hanya bisa duduk tak bergerak selama beberapa waktu dan berjuang keras untuk tidak muntah. Penelitian medis sendiri menemukan bahwa kebiasaan makan yang berlebihan akan mendatangkan banyak masalah kesehatan bagi tubuh kita.

Sebaliknya, kita tahu betapa sengsaranya merasa kelaparan. Ketika perut berteriak meminta diisi, pikiran dan tubuh kita berpikir keras untuk memenuhi tuntutan itu. Jika situasi ini berlangsung terus-menerus, tubuh akan menjadi semakin kurus dan semakin memburuk hingga bisa berujung kepada kematian.

Dari observasi tentang kelebihan dan kekurangan makan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa makan secukupnya adalah yang terbaik. Prinsip secukupnya ini juga berlaku bagi banyak hal dalam kehidupan kita. Inilah yang disampaikan oleh Agur bin Yake dalam perikop Alkitab kita hari ini. Hidup terlampau berlebihan membuat orang lupa akan kebergantungannya pada Tuhan. Sebaliknya, hidup kekurangan membuat orang melakukan hal-hal yang memalukan nama Tuhan. Karena itu, yang terbaik adalah yang secukupnya saja.

Lalu bagaimana kalau kita diberkati secara berlebihan? Apakah kita harus menolaknya? Paulus mengajarkan agar kita berbagi dengan mereka yang berkekurangan (2 Kor 8:13-14). Dengan demikian, baik yang berkelebihan maupun yang berkekurangan sama-sama mengalami kecukupan dan memuji Allah.


Tuhan Yesus memberkati


Bacaan: Amsal 30:1-14
Setahun: Galatia 1-3