ELKHANA BRYAN

September 19, 2020

UPAH YANG DIUBAH


"Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku." (Kejadian 31:41)

Bekerja keras selama sebulan penuh tetapi upah yang diberikan tak sesuai perjanjian atau kesepakatan sungguh mengesalkan hati. Saya pernah mengalaminya ketika bekerja di sebuah lembaga, dengan memori yang masih jelas sampai sekarang. Meski saat itu saya tak bisa menyampaikan protes secara terbuka, tetapi perlakuan semacam itu sempat menorehkan luka hati dan mengurangi kesungguhan dalam bekerja. Maklum, nominal dari pengubahan upah terbilang cukup signifikan bagi ukuran kantong saya waktu itu. Untunglah perasaan negatif itu tidak bertahan lama karena saya segera membereskannya.

Yakub sempat mengalami hal yang lebih mengesalkan. Selama 14 tahun ia bekerja di rumah Laban, sepuluh kali mertuanya itu mengubah upah yang semula dijanjikannya kepada Yakub. Tak hanya itu, saudara Esau ini juga sempat ditipu oleh Laban terkait niatnya untuk menikahi Rahel, anak bungsu Laban. Jika semula Yakub dijanjikan akan mendapat Rahel setelah 7 tahun bekerja, tetapi faktanya ia harus menambah 7 tahun lagi demi mendapatkan wanita yang dicintainya. Namun, untunglah Yakub disertai oleh Allah, sehingga ia tidak meninggalkan Laban dengan tangan hampa karena Allah memberkatinya dengan luar biasa.

Manusia kerap kali dengan mudah mengingkari perjanjian dengan sesamanya, tetapi Allah tak pernah melakukan hal itu. Oleh karenanya, kita dapat mengandalkan Dia dan memegang teguh janji-Nya, sambil mengikuti teladan-Nya dengan menjadi pribadi yang berupaya menepati janji atau kesepakatan yang akan kita buat mulai hari ini.

HANYA ALLAH YANG TAK PERNAH KELIRU DALAM
MENENTUKAN UPAH DALAM KEHIDUPAN UMAT-NYA

September 16, 2020

RAHASIA SAHABAT


Kata Yonatan kepada Daud: "Marilah kita keluar ke padang." Maka keluarlah keduanya ke padang. (1 Samuel 20:11)

"Ini hanya di antara kita berdua"-begitu yang sering terdengar tatkala seseorang memulai pembicaraan rahasia. Senada dengan itulah arti ungkapan "marilah kita keluar ke padang" yang diucapkan Yonatan kepada sahabatnya, Daud. Kala itu "padang" mengandung arti suatu tempat yang sunyi, tersembunyi, dan rahasia (1Sam 20:24, 35, 39). Apabila dua orang sahabat hendak berbagi rahasia (ay. 12-14) di hadapan Tuhan, ke sanalah mereka akan pergi.

Di antara sahabat pasti saling berbagi rahasia. Perkara yang sukar dikatakan kepada orang lain, sahabatlah tempat kita berkeluh kesah (curhat). Semisal, kita berbagi rasa dan cerita dalam kelompok kecil komunitas gerejawi. Kelanggengan persahabatan terukur oleh keteguhan memegang rahasia satu dengan yang lain. Melalui Amsal, kita tahu, Tuhan sangat menjunjung tinggi sikap teguh menyimpan rahasia seorang sahabat alias tidak membocorkannya (Ams 20:19; 25:9).

Di dunia yang konon kian terbuka ini, banyak keburukan dibanggakan atas nama keterbukaan. Salah satunya, kecenderungan membuka apa saja yang sepatutnya bersifat pribadi ke hadapan publik. Tak jarang dengan sengaja hendak mempermalukan. Banyak hubungan dekat retak, persahabatan pun rusak, karena apa yang semula dipercayakan sebagai rahasia ternyata bocor ke mana-mana. Luhur dan langgengnya persahabatan Yonatan dan Daud juga ditandai oleh lulusnya mereka dalam ujian "teguh memelihara rahasia". Luluskah saya dan Anda melewati ujian yang satu ini

MEMBOCORKAN RAHASIA SEORANG SAHABAT
TAK LEBIH RINGAN BOBOTNYA DARIPADA TINDAKAN BERKHIANAT.